Stop Facebook exploiting you: support secure and private social network project

tagtag.com/sotry

Mata-mata jelalatan, mencari sasaran
Dengus napas menggesa, tak sabar meniti jeda
Jantung birahi berdegup, menuntut meminta
Rakus..., kuhirup darah perawan
Hooii...!!
Perawan-perawan jelita
Puaskan aku dengan darah kalian!!!
(Tuhan, kapan kau renggut darah perawanku?)  

Malam semakin tua, tetapi gelak tawa di stasiun radio itu masih sesekali menggema. Semuanya suara cowok. Rupanya meski siaran sudah habis tengah malam itu, masih ada saja orang yang tinggal, kongkow ngrumpi sana-sini, membicarakan apa lagi, kalau bukan soal cewek. Maklum, satu-satunya obyek pembicaraan antara cowok, yang tak lekang dimakan jaman, adalah soal cewek.  

"Cerita dong Boy, gimana kamu memerawani Meity, " pinta salah seorang diantaranya.  

Meity adalah pacar Boyke. Mereka dikenal sebagai pasangan 'panas' yang tak segan berciuman dan menunjukkan keintiman mereka di depan umum. Edan pokoknya. Mereka bahkan saling foreplay di depan rekan-rekan mereka selagi kongkow begitu.  

"Kapan ya? Waktunya sih aku sudah lupa. Tapi masih terpatri di ingatanku peristiwa itu terjadi saat pesta perpisahan SMA kami. Di bawah panggung pementasan tepatnya, " jawab Boyke sambil nyengir.  

"Wah, sebelum pementasan tutup tahun?" tukas Pri, yang merupakan sobat Boyke sejak lama. Kini mereka berdua sama-sama siaran di radio itu.  

"Hahahaha," gelak yang ditanya, "Nggak! Nggak Pri. Kamu salah. Justru tepat ketika anak A2 nge-band sehabis kita itu Pri."
"Hah?"  

"Masih ingat nggak, kan band kita kan tampil pertama kali? Abis itu si Meity, Andin, dan Tri nge-dance?" tanya Boy sambil menatap Pri dan kemudian senyum- senyum ke dua pendengar lainnya. Pri mengangguk.  

"Nah, saat itulah otakku bersiasat, mencari cara untuk mendapatkan Meity. Habis, konak aku liat pusat perutnya yang diobral sewaktu nari itu. Mulus bok!! Ketika tubuhnya meliuk-liuk di panggung, mataku udah melotot saja. Jakunku sampai gelegak-gelegek nelen air liur beberapa kali. Busyet deh," mata Boy menerawang.  

"Trus, gimana kamu berhasil menyeretnya ke bawah panggung tanpa orang lain tahu?" tanya si Agil. Agil adalah fans lawas. Ia bahkan sesekali membantu ketika stasiun radio itu membuat acara offair. Aktif pokoknya.  

"Hehehe, pertanyaan cerdasss, " seringai Boy sambil mengacungkan jempolnya. "Waktu itu kalau nggak salah, panggung kesenian tutup tahun itu terpaksa dibuat di lapangan basket. Aula besar baru direnovasi deh. Trus, belakang panggung tuh didirikan backdrop hitam, kanan kirinya ditambahi batas kain, hitam juga, jadi ada gang di antara kain itu, untuk pengisi acara mondar- mandir dari panggung ke kamar ganti tanpa ketahuan penonton. Asal tahu saja, ketika Meity turun panggung, aku langsung menggeret tangannya. Aku tarik dia ke belakang panggung yang hanya sanggup menyembunyikan tubuh kerempengku ini."  

"Ah ya, waktu itu kamu memang nolak aku ajak ke area penonton, rupanya karena alasan itu," tukas Pri seolah baru ngeh kenapa sahabatnya menolak ajakannya waktu itu.  

"Betul Pri. Dan di balik backdrop itu deh aku garap Meity, yang waktu itu belom menerima cintaku. Aku cium bibir dia. Meity semula menolak, tapi akhirnya mandah saja, rupanya dia nggak tahan menerima hujan ciuman yang aku berikan." Jelas Boy seraya ngakak.  

"Dan akhirnya aku geret deh dia ke bawah panggung, dan jebol keperawanannya di situ. Habis itu, jadilah Meity pacarku sampai sekarang, ketagihan dia rupanya ama dedek aku. Hahaha...," Boy ngakak semakin keras.  

"Asyik juga kali kalau dapet perawan gitu ya?" gumam Agil kepingin.  

"Lho, ya kamu tinggal cari dong, " seru Boy.  

"Cari gimana Boy? Masak kita harus ujicoba terus ampe nemu yang perawan gitu? Kamu kan tahu sendiri sekarang ini jarang banget cewek yang masih virgin gitu, "  

"Yupp. Harus. Caranya ya emang trial terus deh. Soalnya kalau sampai kita blon ngerasain darah keperawanan, hhmmm, bakal penasaran terus deh, " tutur Boy.  

Belum lagi salah satu dari mereka bereaksi terhadap perkataan itu, pintu di sebelah kanan mereka bergeser kasar, bahkan daun pintu itu ditutup lagi dengan sebuah bantingan. " Brakkk..!!!" Sepertinya si pembuka pintu kesal.  

"Eh, Lang, buka pintunya perlahan saja dong," ujar Pri setelah tahu siapa yang membanting pintu. Kaget juga dia, tidak biasanya Lang muncul selarut ini.  

"Ah, pasti elo lagi perang ya ama Denni?" tanya Boyke sambil cengengesan, merasa lucu dengan guyonannya sendiri.  

Fatal.  

"Nggak usah ngurusi urusan orang! Sana cari terus darah perawanmu ke ujung dunia..!!" teriak Lang dengan muka memerah menahan amarah. Bibir gadis itu bahkan terlihat bergetar.  

"Kalian benar- benar biadab. Kalian pikir aku nggak mendengar setiap pembicaraan tentang keperawanan tadi? Jangan salah, cukup lama aku berdiri di luar dan mendengar semuanya. KALIAN BIADAB..!! Kalian tidak adil mempermainkan nasib kaum perempuan!!"  

"Lho..!" Boyke, Pri dan Agil sempat terlonjak mendapatkan tanggapan yang sangat tidak biasa ini. Biasanya Lang begitu sabar, tidak gampang terprovokasi amarahnya. Dan sekarang terlihat banget kalau gadis itu tersinggung berat dengan obyek pembicaraan mereka.  

"Lang," tiba-tiba terdengar suara Abi dari ujung atas tangga ke lantai dua. Suara yang begitu sabar. Yang membuat Lang tiba-tiba teringat bukan pada tempatnya dia berteriak penuh amarah ke orang yang tidak tahu masalahnya.  

Muka Lang tertunduk. Ia menghela nafas panjang, mencoba meredam gejolak hatinya. Ditatapnya tiga orang cowok di depannya.  

"Hhh,.... sorry," ucapnya lirih. Kemudian cepat-cepat ia meninggalkan mereka sebelum mereka sadar betapa matanya dipenuhi air mata yang menjelang runtuh.  

Lang setengah berlari menaiki tangga. Abi masih berdiri di ujungnya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya, ia kemudian menggenggam tangan Lang, membimbingnya masuk ke ruang rekam 2. Dibiarkannya perempuan itu meringkuk di pojok ruangan sambil menangis.  

Abi bisa menduga kenapa Lang tadi begitu reaktif. Baru tiga hari yang lalu ia tahu betapa perempuan yang ada didepannya ini didera musibah. Suami Lang berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Kenyataan mana yang bisa lebih pahit dari itu bagi seorang perempuan?  

Abi justru heran, beberapa hari ini Lang tetap masuk kerja. Padahal sejak kejadian itu, ia mengira gadis itu pasti akan mangkir dari tugasnya. Makanya ia sudah minta Pri untuk stand by menggantikannya. Nyatanya tidak. Lang hanya mangkir terhadap janjinya rekaman malam itu, tapi paginya, ia sudah datang bahkan dua jam sebelum jam siarannya! Cuma, memang tak ada lagi warna ceria di wajahnya. Mata Lang juga terkesan sendu, tidak 'hidup' seperti biasanya.  

Abi masih diam. Ia bahkan tak berani mengajak Lang bicara. Tak tega hatinya melihat perempuan yang diam-diam dicintainya itu menangis. Ingin sekali dipeluknya gadis itu, membisikkan kekuatan bahwa semuanya akan baik- baik saja. Tapi ia tak berani. Tidak. Tidak sekarang.  

Akhirnya badai tangis Lang mereda. Gadis itu kini menatap Abi dengan matanya yang sembab. Dhuh, rapuhnya dia, bisik Abi dalam hati.  

"Sudah lega?" tanya Abi sambil mencoba mengajak tersenyum gadis itu.  

Bibir Lang tersenyum getir. Ia mengangguk lemah.  

Waktu seakan terhenti. Diam. Mata Lang menatap langit-langit, sementara Abi menunduk menatap ujung sepatunya sendiri, membiarkan Lang mengendapkan perasaannya.
"Bi" suara Lang memecah kebekuan itu.
"Hmm?" mata abi beranjak ke gadis itu.
"Seberapa besar sih arti keperawanan buat seorang cowok?"  

Pertanyaan yang tidak terduga. Abi mengira gadis itu akan bertanya soal perselingkuhan, ia adalah laki-laki yang sering berselingkuh, tapi ternyata ia keliru. Otaknya bergerak cepat. Pasti soal ini tetap ada hubungannya dengan kasus Denni dan Windy.  

"Hm, tergantung Lang. Ada yang sama sekali nggak mempedulikan itu. Tapi untuk sebagian lain kayaknya itu penting banget. Kenapa?"  

Lang masih memandangi langit- langit ruangan itu. Dari ujung matanya mengalir lagi buliran air. Tanpa isakan.  

"Aku... aku sekarang tahu apa yang membuat perkawinanku tak beres Bi. Selama ini rupanya Denni mengabaikanku karena menyimpan amarah. Ia kecewa... aku aku tak mengeluarkan ..darah.. perawanku... ketika berhubungan pertama dengannya, " bibir gadis itu bergetar, suaranya tercekat menahan isak tangis.  

Abi terdiam. Bajingan, rupanya itu yang menjadi momok selama ini. "Dan apa karena alasan itu pula dia menggauli adikmu?"  

Dilihatnya Lang mengangguk. "Malam ini dia mengakui itu Bi. Aku mendesaknya bicara setelah beberapa hari ini dia diam seribu bahasa. Dia bilang kecewa pada diriku karena hal itu. Tapi, aku retas protesnya. Aku bilang kepadanya betapa tidak adilnya dirinya. Kenapa dia tidak menyampaikan protesnya sejak saat kami melewatkan malam pertama kami, biar aku bisa langsung visum dokter."  

"Eh, eh, dan kau yakin memang masih perawan saat itu?" tanya Abi ragu-ragu, takut kalau pertanyaannya semakin membuat perempuan itu gundah.  

Lang terdiam. Tapi Abi menyeksamai betapa gadis itu terlarut dalam lamunannya  

******  

Lang selalu malu- malu ketika mereka mulai saling menggerayang. Gadis itu bahkan terlihat tersipu ketika tangan Krisna melepas pakaiannya. Selalu begitu. Tapi Krisna tahu persis, Lang selalu menginginkannya. Dan biasanya, ciuman- ciumannya di daerah sensitif si gadis akan melumerkan kekakuannya.  

Tubuh gadis itu kini tergolek di kasur yang terletak di pojokan kamar. Krisna memandanginya sejenak. Kulit Lang tampak bersih, matanya sayu mengundang. Payudaranya kencang berisi. Di bagian bawah, rambut kemaluannya tak begitu lebat, menonjolkan bukit kewanitaannya. Sangat menggairahkan.  

Krisna kembali mendekat, menciumi leher gadis itu. Bau keringatnya begitu khas, harum, bukan harum parfum karena Lang memang tak pernah menggunakan pewangi, tapi aroma alami gadis ini sangat menggoda.  

Dengan sigap Krisna menindih tubuh menggiurkan yang telanjang bulat tanpa sehelai benang itu. Ditariknya kedua lengan Lang ke atas kepalanya, diciuminya pangkal lengan si gadis yang nyaris tak berbulu. Gadis itu menggelinjang. Tangan Krisna kemudian menggerayang ke bawah pusat. Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemari Krisna mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua paha Lang terkangkang semakin lebar. Krisna memegangi kejantanannya, menyapukan ujung kepalanya yang memerah ke bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin memburu.  

Lenguhan manja terdengar dari bibir Lang, semakin membuat tegangan birahi Krisna naik ke ubun-ubun. Ia tak lagi bisa mengendalikan diri. Ia tak lagi mengusapkan kepala kejantanannya, dan bersiap menghujamkan senjatanya itu ke liang vagina si gadis. Perlahan, kejantanannya hampir menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh kekasih perawannya itu, ketika tiba-tiba tubuh Lang menyentak bangun.  

"Tidak. Kris, jangan!" Lang menarik tubuhnya yang telanjang itu duduk merepet ke dinding  

"Kenapa sih kau selalu menolak?! Kau tidak ingin memberikannya kepadaku? Kau tidak mencintaiku?" tanya lelaki itu gusar.
"Kris, lihat mataku. Apakah kau meragukan perasaanku kepadamu?"  

Krisna memandang wajah bulat telur yang ada di depannya. Dia tahu Lang sangat mencintainya. Mereka memang saling mencintai. Lang bahkan mau pacaran sembunyi- sembunyi dengan dia, mahasiswa seni design, yang miskin dan belum jadi apa- apa. Padahal kalau gadis itu mau, pasti ia bisa mendapatkan pacar yang lebih bonafid.  

Sejak tiga bulan lalu, ketika orangtua Lang positif melarang mereka pacaran, mereka tampaknya ingin anak gadisnya mencari pasangan yang lebih baik masa depannya. Tapi nyatanya, gadis itu justru setiap hari mampir ke kost- kost-an Krisna sepulang kuliah. Sejam-dua jam mereka berbagi rindu, berbagi mimpi akan masa depan. Kuliah Krisna di institut seni sudah di tingkat akhir. Dia sebentar lagi lulus dan dia akan melamar pekerjaan secepatnya. Ingin dipinangnya gadis itu meski orangtua Lang tak boleh. Dan seperti rencana mereka, bila perlu, mereka akan kawin lari. Tapi itu nanti, ketika ia sudah bekerja dan mampu bertanggungjawab.  

"Kris," panggilan Lang menyadarkannya kembali, " bukannya aku tak ingin memberikan keperawananku kepadamu. Bukankah sudah pernah kita bahas, kita akan menjaga yang satu itu sampai nanti waktunya. Aku ingin memberikan hal paling hakiki dari kewanitaanku itu pada suamiku, "  

"Dan apa aku bukan calon suamimu?" sela Krisna masih setengah gusar.  

"Kris, pahamilah, aku sangat berharap kaulah yang akan menjadi suamiku nantinya. Kau tahu, aku sangat mengharapkan itu, makanya aku abaikan larangan orangtuaku untuk berhubungan denganmu. Kau pikir itu mudah?" kata Lang merajuk merayu.  

"Ambillah ini nanti pada saat yang tepat. Aku akan menjaganya untukmu." Sambil berkata demikian gadis itu merangkulkan kembali lengannya ke leher Krisna. Ditatapnya laki-laki itu penuh kasih, dan kemudian Lang mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya, disusul dengan ciuman-ciuman lain yang membangkitkan nafsu kelelakiannya.  

Tubuh Krisna menegang, birahinya kembali bergolak. Gadis itu selalu pandai meruntuhkan kemarahannya. Ia juga paling bisa membangkitkan nafsunya. Sudah beberapa kali ini mereka melakukan persetubuhan, meski tanpa memasukkan kelelakiannya ke liang vagina si gadis. Kissing, petting, necking, sudah bukan hal asing bagi mereka berdua, dan harus diakui, tanpa intercourse pun, ia sudah mendapatkan ejakulasinya.  

Tubuh mereka kembali bergelut, seperti lintah yang saling lekat, menghisap satu sama lain. Erangan-erangan lirih dari mulut Lang kembali terdengar ketika perlahan Krisna membaringkannya lagi di atas kasur di pojok kamar itu, dan ia menghujani ciuman bertubi-tubi ke payudara si gadis. Sesekali dijilatnya puting Lang yang sensitif, digigitnya lembut puting berwarna cokelat itu. Dan biasanya pada tahapan ini erangan Lang semakin keras.  

Tangan gadis itu pun aktif menggerayang tubuh bugil Krisna. Diremasnya bokong lelaki itu, dan perlahan tapi pasti gerayangannya berpindah semakin ke depan. Ditemukannya kejantanan lelaki itu tegap berdiri, siap untuk sebuah pendakian. Lang merespon ciuman laki-laki itu dibibirnya penuh gairah, dan ia mengarahkan kejantanan Krisna ke sela jepitan pahanya yang kenyal. Krisna paham kekasihnya menginginkan kepuasan dan mulai menggenjot kejantanannya di antara kedua labia mayora si gadis. Gesekan demi gesekan menyentuh kelentit Lang, membuatnya memejamkan mata, merasai kenikmatan. Tubuhnya menggeliat, rangsangan batang kejantanan Krisna di bagian itu selalu membuatnya terbang. Ia selalu merindukan sentuhan nikmat ini. Dan tanpa terasa jepitan pahanya semakin kuat, membuat Krisna terombang-ambing dalam ayunan birahi.  

"Lang, aku mencintaimu," Krisna membisikkan kata sihir yang semakin memacu goyangan pinggul gadis itu.  

Keduanya kini seolah bersicepat. Tubuh mereka semakin basah dalam gerakan ritmis. Dan tak lama kemudian mereka bersama mengerang. Tubuh gadis itu melenting, ditekannya bokong Krisna agar ia tak kehilangan rasa nikmatnya. Sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa. Dan muntahan 'lahar' panas dari ujung kepala kejantanan Krisna mengguyur kemaluan luar Lang. Rasa hangat yang masih ditingkahi dengan gesekan batang kemaluan Krisna itu telah membawa Lang ke ujung orgasmenya.  

******  

"Tidak! Aku yakin, aku masih perawan ketika kawin dengan Denni. Aku tak pernah membiarkan pacarku yang dulu memerawaniku," lemah Lang berbisik seolah meyakinkan dirinya sendiri.  

"Tapi, kemana darah perawanku?" kembali sebulir airmata membasahi pipi gadis itu.  

Abi tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia beranjak mendekati Lang. Digenggamnya tangan gadis itu yang kini dingin dan gemetar.  

"Sudahlah Lang, percuma kau menangisinya saat ini. Kau hanya harus teguh pada keyakinanmu bahwa kau memang tidak pernah melepas keperawananmu pada orang lain. Lagi pula, tidak semua keperawanan pecah mengalirkan darah," Abi mencoba membesarkan hati Lang, " Pulanglah! Hari semakin larut. Aku antar, yuk!"  

Tapi gadis itu tak bereaksi terhadap ajakan Abi. Matanya justru menatap Abi lekat- lekat.  

"Tidak Bi, andaikata ada tempat lain untukku pulang, saat ini," keluh gadis itu, "dan, aku tadi sengaja datang ke sini untuk sesuatu urusan, berkait dengan kamu."  

"Dengan aku?"  

Lang mengangguk. "Tadi ketika aku bantah tuduhannya atas keperawananku, Denni tahu kalau dia tak punya pijakan kuat untuk menjadikan keperawananku sebagai alasan perselingkuhannya dengan Windy. Dandan dia menarikmu dalam badai ini."  

"Apa maksudmu?" Abi masih belum tanggap dengan perkataan itu.  

"Di tengah keputus-asaannya, Denni mencari seribu satu pembenaran atas perselingkuhannya itu, dan IA MENUDUHKU BERSELINGKUH DENGAN KAMU. Dan ia berkata perselingkuhannya hanyalah upaya dia membalas hal itu."  

"Tapi, Kau tahu itu tidak benar! Salah besar! Aku tak pernah menyentuh seujung pun rambutmu. Hubungan kita selama ini sangat profesional bukan, selalu urusan kerja, " bantah Abi.  

Ada rasa perih di hati Lang mendengar jawaban Abi. Hhh, jadi laki-laki itu tidak mencintainya. Semua perhatiannya semata berkait dengan kesenimanannya itu. Hampir ia menundukkan kepalanya ketika Abi memegang kedua pipinya, memaksanya menatap laki-laki itu.  

Abi melihat kilatan pedih itu di mata Lang. "Tidak Lang, jangan salah paham! Maafkan aku. Selama ini aku berusaha tetap profesional, karenakarena aku ingin menyembunyikan perasaanku."  

Mulut Abi tiba-tiba berat sekali. Di hatinya berkecamuk keinginan, antar ingin mengatakan perasaannya, tapi takut hal itu akan menimbulkan komplikasi baru pada masalah ini. Tapi di sisi lain ia juga khawatir, gadis itu semakin terpuruk dalam rasa tidak percaya dirinya, padahal itu sangat dibutuhkannya. Dan ia, Abi Wicaksono bisa memberikannya!  

Akhirnya, Abi menyerah pada kata hatinya yang paling dalam. "Lang, aku tak sanggup lagi menyimpan perasaan ini. Aku.aku mencintaimu."  

Mendengar pengakuan itu, mata Lang membelalak lebar. Perasaannya serasa diguyur air es, dingin, menyejukkan. Tak kuasa lagi ia menahan diri. Ia menghambur ke pelukan Abi, dan menangis di dada laki-laki itu, yang segera merengkuhnya erat. Sangat erat. Memberikan seribu rasa yang dibutuhkan perempuan itu. Rasa aman, rasa sayang, dan rasa betapa ia dibutuhkan.  

Ingin sekali Lang menghentikan gerak waktu, hanya sampai di sini. Dilupakannya masalahnya. Ditepisnya ingatan bahwa laki-laki itu bukan lajang. Tak lagi dia ingat betapa ada Indi yang akan kesakitan oleh pengakuan ini. Lang hanya tak ingin beranjak dari kebahagiaan ini. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Abi, tersenyum di antara tangisnya. Ia letakkan sejenak bebannya dalam pelukan itu. Lang menemukan oase setelah pengembaraannya yang panjang.  
 

Di sini aku temukan kau,
Di sini aku temukan daku,
Di sini aku temukan arti,
Serasa tiada..sendiri.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com