TagTag pledge: Help us build secure and private social network

tagtag.com/ken-tooth

Suatu hari Winda mengajak aku untuk “berburu” oom-oom di cafe. Selama ini aku belum pernah kencan dengan oom-oom. Aku sih sudah sering ngentot tapi sama cowokku saja. Winda bilang, sensasinya beda kalo ngentot dengan lelaki yang jauh lebih tua dari kita. Dia sudah pengalaman berburu oom oom. Kebetulan cowokku ada tugas keluar daerah, sehingga aku terima ajakan Winda. Karena pinternya Winda mempengaruhi aku sehingga aku penasaran untuk mencobanya.

Di cafe itu Winda berhasil berkenalan dengan oom Edo,  usia pertengahan tapi masih tegap dan atletis badannya dan ganteng. Winda saat itu memakai halter neck ketat dan rok mini, sehingga toketnya yang besar makin membusung. Aku memakai kaos ketat dengan belahan yang rendah sehingga toketku yang juga besar mengintip keluar, dan celana ketat. Beberapa pria tampak melihat dengan bernafsu kepada kami. Si oom mentraktir Winda dan aku makan, setelah itu dia mengajak jalan.

“Wow.., mobilnya keren banget oom. Sama kaya orangnya” kata Winda setelah kami sampai di mobilnya.

Windapun duduk di kursi depan disebelah si oom, sedang aku duduk di bangku belakang.  Tak lama kamipun meluncur meninggalkan cafe tersebut. Si oom mengelus2 paha mulus Winda yang tersingkap karena rok mininya naik ke atas. Sesekali dia melirik lewat kaca spion ke aku yang sedang duduk dibelakang. Aku tau bahwa si oom memperhatikan aku, aku hanya tersenyum tersipu. Winda minta dibelikan pakaian, dan itu di OK kan saja sama si oom.

Aku hanya ikut saja dengan mereka, tetapi kebagian juga dibelikan celana jeans oleh si oom. Selesai belanja si oom ngajakin santai di apartmentnya. Winda meng OK kan saja ajakan si oom. Tak lama kami sudah sampai di apartment. Kita turun di basement dan menuju lift. Si oom langsung memijit lantai apartment dan lift meluncur ke atas. Apartmentnya type studio sehingga hanya ada satu ruang yang multi fungsi, kamar mandi dan pantri yang merangkap dapur. Si oom merebahkan diri di atas ranjang. Aku duduk di kursi di pojok ruang. Sementara Winda pergi ke kamar mandi. Ketika muncul kembali, Winda hanya berbalut handuk kemudian ikut rebahan diranjang bersama si oom. Si oom melingkarkan tangannya pada pundak Winda dan mengelus-elus nya. Tak lama si oom mulai menciumi bibir Winda sambil tangannya meraba-raba toket Winda.

“Nes.. Sini donk..” ajak Winda. Aku masih duduk termanggu saja di kursi melihat semua ini. Winda pun  mencium si oom penuh napsu.

Si oom membuka belitan handuk sehingga Winda langsung bertelanjang bulat. Langsung dia menciumi dan menjilati toket Winda dengan rakus. Dia menghisap hisap pentil Winda. Aku yang mulai terangsang melihat Winda sedang digumuli si oom.  Jarinya meraba bibir memek Winda yang dipenuhi dengan jembut yang lebat. Windapun melenguh nikmat ketika jari si oom menemukan itilnya. Sementara itu, toket Winda masih terus dijilati dan diemut pentilnya. Winda yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuh si oom. Dengan cepat dia melucuti kancing kemeja si oom. Dihisapnya pentil si oom, sementara tangannya melucuti celananya.

“Winda buka dulu ya oom” katanya sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaiannya. Si oom tinggal berCD, dan tampak  kontolnya mencuat keluar tak mampu tertampung didalam CDnya.

“Nes.. Sini deh.. Kontol si oom gede banget, panjang lagi” kata Winda sambil mengelus-elus kontol si oom dari balik CDnya. Windapun kemudian membuka CD si oom, dan kontol si oom yang sudah ngaceng keras tampak berdiri tegak dihadapannya.

“Gila.. Gede banget.. Bikin Winda nafsu..” kata Winda sambil menundukkan kepalanya mulai menjilati kontolnya kemudian mengulum kontolnya. Aku sudah terangsang melihat adegan ini dan kuraba-raba toketku sendiri.

“Nes.. Bantuin gue dong..” kata Winda sambil terus menghisap kontol si oom sementara si oom mengelus- elus rambut Winda yang panjang itu. Kadang tangan si oom berpindah ke toket Winda yang sekal dan mempermainkan pentilnya.

“Win.. Enak banget Win..” desah si oom, Winda terus menjilati kontol si oom.

Aku  sudah tak bisa lagi menahan nafsuku melihat Winda sedang mengulum kontol si oom. Aku bangkit dari kursi dan berjalan kearah ranjang. aku merebahkan badanku di samping si oom. Langsung si oom merengkuh wajahku dan diciumi dengan penuh napsu. Tangannyapun bergerilya membuka halter neck ketatku. Kemudian dengan gemas meremas toketku.

“Iih oom.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?” godaku.

Dia tak menghiraukan perkataanku, langsung dia mengangkat cup BHku yang kekecilan untuk menampung toketku yang besar. Dihisapnya pentilku dengan gemas.

“Ahh.. Ahh” erangku ketika pentilku yang telah mengeras dijilati dan dihisap si oom.

“Enak oom.. Ahh” erangku.

“Emut pentilnya oom..” pintaku. Eranganku semakin menjadi.

“Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah ” aku kembali mendesis.

Sementara itu Winda masih sibuk menjilati dan mengulum kontol si oom. Terkadang dihisapnya juga biji peler si oom. Sementara itu tangannya tampak sibuk meremas-remas toketnya sendiri. Setelah si oom puas menikmati toketku, aku didorongnya sedikit ke arah selangkangannya.

 “Nih Nes… giliran kamu…” kata Winda sambil mengeluarkan kontol si oom dari mulutnya. Kupegang batang kontolnya, aku gemas melihatnya.

”Ih.. oom, gede banget..”.  kuelus perlahan kontolnya.

“Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?”

“Belum oom.. Punya cowok Ines nggak sebesar ini.” jawabku.

“Arghh.. Enak Nes…. hhssshhh” erangnya ketika aku mulai mengulum kepala kontolnya.

Kujilati lubang kencingnya dan kemudian kukulum kontolnya dengan bernafsu. Sementara itu batang kontolnya kukocok sambil sesekali kuremas perlahan biji pelernya. Si oom tampak keenakan  ketika aku mengeluar masukkan kontolnya dengan mulutku. Dia mengusap-usap rambutku dengan gemas. Ruangan segera dipenuhi oleh erangannya. Saat aku menghisap kontolnya, kepalaku maju mundur, toketku pun bergoyang. Dengan gemas si oom meremas toketku.

“Nes.., jepit pakai toketmu ” pintanya.Aku langsung meletakkan kontolnya di belahan toketku, dan kemudian dia mengenjot kontolnya diantara toketku.

“Enak banget sshh..” si oom seperti tak kuasa menahan rasa nikmat itu.

Setelah beberapa lama, dia menyodorkan kembali kontolnya ke mulutku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu. Setelah beberapa lama, kuberikan kembali kontolnya pada Winda. Dengan sigap, Windapun kembali menghisapi kontol si oom lagi. Demikian berlangsung terus menerus. Secara bergantian aku dan Winda menghisap kontolnya.

Aku kemudian berdiri dan melepas sisa pakaianku. Si oom membelalak melihat memekku yang juga berjembut cukup lebat. Aku menaiki tubuhnya dan kuarahkan kontolnya ke memekku. Aku menurunkan tubuhku dan kontol si oom mulai menerobos memekku  yang sempit.

“Ooh..  Besar banget nih kontolnya si oom.. Ahh..” desahku ketika kontolnya telah berhasil memasuki memek ku.

“Tapi enak khan..” tanya Winda menggoda

“Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah..” erangku lagi ketika si oom mulai menggenjot memekku.

Tangannya memegang pinggangku sambil terus mengenjot memekku. Sementara Winda berpindah kesamping si oom dan menyodorkan toketnya ke mulut si oom. Si oom segera menjilati toket Winda.

“Oom.. Gimana oom.. Enak khan ngentotin Ines?” tanya Winda menggoda.

Aku masih meliuk-liukan tubuhku. Si oom pun terus menggenjot memekku dari bawah, sambil sesekali tangannya meremas toketku yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, si oom membalikkan tubuhku sehingga dia berada diatas. Dia mengenjot kontolnya keluar masuk memekku sambil menciumi wajahku.

“Ehmm.. Sstt.. oom.. Enak.. Ohh. Kontol oom gede banget…., memek Ines sampe sesek rasanya oom, gesekan kontol oom terasa banget di memek Ines….. Mau deh Ines dientot oom tiap malam…..,” aku melenguh keenakkan.

“Ayo isap pentil oom” perintahnya.

Akupun kemudian menghisap pentilnya sementara si oom terus menggenjot memekku. Tak lama tubuhku mengejang, dan aku mengerang dan menggelinjang ketika nyampe. Terasa  memekku berkedut2.  

“Nes, enak banget, kontol oom seperti sedang diemut, nikmat banget rasanya, luar biasa empotan memek kamu”.

Karena masih ada Winda yang harus digarap, si oom menarik kontolnya dari memekku, dan dia segera menciumi Winda yang berada di sebelahnya.  Winda disuruhnya menungging membelakanginya. Dengan gaya doggy style si oom mengentoti Winda dari belakang.

“Aduh.. oom.. Kuat banget.. Ohh..” erang Winda ketika si oom menggenjot memeknya. aku lemas berbaring di ranjang menyaksikan si oom ngentot dengan Winda.

“Gila.. Memekmu enak banget Win..” katanya.

Tangannya memegang pinggul Winda, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Winda pun menjerit nikmat. Toketnya  pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan.  Bosan dengan posisi ini, si oom kemudian duduk di kursi. Winda lalu duduk membelakangi si oom dan mengarahkan kontol si oom ke dalam memeknya. Si oom menyibakkan rambutnya yang panjang  dan menciumi leher Winda. Sementara itu tubuh Winda bergerak naik turun. Tangan si oom sibuk meremas toketnya.

“Ahh.. Ahh.. Ahh..” erang Winda seirama dengan goyangan badannya diatas tubuh si oom.

Terkadang erangan itu terhenti saat si oom menyodorkan jemarinya untuk dihisap Winda. Beberapa saat kemudian, si oom menghentikan goyangan badannya dan dia mencondongkan tubuh Winda agak ke belakang, sehingga dapat menghisap toketnya. Dengan gemas si oom melahap bukit kembarnya dan sesekali pentil Winda dijilatinya. Erangan Winda semakin keras terdengar, membuat aku menjadi kembali bernapsu. Setelah si oom selesai menikmati toket ranumnya, kembali Winda mengenjot tubuhnya naik turun dengan liar. Binal banget kelihatannya.

Cukup lama si oom menikmati perngentotan dengan Winda di atas kursi. Lalu dia berdiri, dan kembali berciuman dengan Winda. sambil dengan gemas meremas dan menghisap toket Winda. Si oom ingin segera  menuntaskan permainan ini. Lalu dia merebahkan Winda di atas ranjang. Si oom  kemudian mengarahkan kontolnya kembali ke dalam memek Winda.

“Ahh..” erang Winda kembali ketika kontol si oom kembali menyesaki memeknya. Langsung Winda dienjot dengan ganas. Erangan nikmat mereka berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Kulihat Winda menggelengkan kepalanya ke kanan kekiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.

“Oom.. Winda hampir sampai oom.. Terus.. Ahh.. Ahh” jeritnya sambil tubuhnya mengejang dalam dekapan si oom.

Tampak dia telah nyampe. Si oom menghentikan enjotannya sebentar, dan Winda pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kulihat butir keringat mengalir di wajah Winda. Toketnya naik turun seirama dengan helaan nafasnya. Si oom kembali menggemasi toket Winda dengan bernafsu. Dia mulai lagi mengenjot memek Winda sambil sesekali meremas toketnya yang bergoyang seirama enjotan si oom. Si oom terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk memek Winda sampai akhirnya ngecretlah pejunya  di dalam memek Winda. Winda terkapar karena kenikmatan dan lemas.

Si oom menghampiri aku yang masih terkapar di ranjang. Dia mulai menciumiku sambil tangannya mengusap-usap pahaku, dan kemudian mengilik memekku dengan jemarinya.

”Ehmm..” erangku saat itilku diusap-usap dengan gemas. Eranganku terhenti si oom menciumku dengan penuh napsu. Tangannya meremas2 toketku yang besar menantang.

“Oom kuat banget sih , baru ngecret dengan Winda sudah mau ngentot lagi dengan Ines” ucapku lirih.

“Iya habis oom pengen diempot memek kamu sampe ngecret. Tadi kan belum ngecret, itu juga udah nikmat banget rasanya. Apalagi kalo sampe ngecret” bisiknya.

Desahku kembali terdengar ketika lidahnya mulai menari di atas pentilku yang sudah menonjol keras. Dihisapnya dengan gemas gunung kembar ku hingga membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

“Gantian dong Nes….” bisiknya ketika dia sudah puas menikmati toketku yang ranum. Kami pun kembali berciuman sementara tanganku meremas kontolnya yang mulai membengkak. aku pun kemudian mendekatkan wajahku ke kontolnya, dan  mulutku mulai mengulum kontolnya. Sambil menghisap kontolnya, aku mengocok perlahan batangnya, membuatnya tak tahan untuk menahan erangan nikmatnya.

“Ihh… Winda juga pengen dong..”, kata Winda sambil menggeser ke arahku

“Ya ayo..” kata si oom sambil mengelus-elus rambutku yang masih menghisap kontolnya.  Winda pun langsung diciuminya. Lidah mereka saling bertaut, sementara aku masih sibuk menikmati kontolnya. Setelah puas berciuman, dia mencabut kontolnya dari mulutku.

“Ayo Win” kata si oom sambil sedikit menekan kepala Winda agar mendekat ke kontolnya.

“Iya..” kata Winda sambil dengan imutnya menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.

“Acccchh.. Yes..” desah si oom saat Winda memasukkan kontol si oom  ke dalam mulutnya. Winda menghisap kontol si oom seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop. Si oom kelihatannya keenakan sekali. Cukup lama juga Winda menikmati kontol si oom. Sementara itu aku kembali menyodorkan toketku ke si oom. Setelah beberapa lama menghisap toketku, si oom kemudian mendekatkan wajahku ke arah kontolnya lagi. Kucium biji pelernya, sementara Winda masih sibuk mengulum kontolnya.

“Nih gantian Nes..” katanya sambil menyorongkan kontol si oom ke mulutku yang berada di dekatnya. Aku pun dengan sigap kembali mengemut kontolnya. Sementara itu, kali ini gantian Winda yang menjilati dan  menciumi biji pelernya. Si oom mengelus-elus kepalaku dan Winda yang sedang mengemut kontolnya.

Si oom sudah ingin ngentot lagi dengan aku. Aku disuruhnya duduk membelakangi si oom di pangkuannya. Dia mengarahkan kontolnya kedalam memekku.

“Auuuhhhhh..” desahku ketika kontolnya kembali menyesaki memekku. Aku kemudian menaik-turunkan tubuhku di atas pangkuannya. Winda pun tak tinggal diam, diciuminya si oom  ketika aku sedang mengenjot kontolnya dalam jepitan memekku.  Sambil menciumi Winda, tangannya memainkan itilku.

“Ah.. Terus oom.. Ines mau nyampe..” desahku. Semakin cepat si oom mengusap itilku, sedangkan tubuhku pun semakin cepat menggenjot kontolnya.

“Ahh..” erangku nikmat saat aku nyampe. Tubuhku mengejang dan kemudian terkulai lemas diatas pangkuannya. Kembali terasa memekku berkedut2 dengan keras. Setelah reda kedutan memekku, kontol dicabutnya dari memekku, masih ngaceng keras dan berlumuran cairan memek ku. Aku ditelentangkan dan segera si oom menaiki tubuhku. Pahaku sudah mengangkang lebar. Si oom tidak langsung memasukkan kontolnya kedalam memekku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir memekku hingga menyentuh itilku.

“Oom.. Aduuhh.. Aduuhh oom! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo oom.. Masukin aja.. Nggak tahann..” aku menjerit-jerit tanpa malu.

“Udah nggak tahan ya.. Nes, cepat banget sudah napsu lagi..” jawabnya.

Tiba-tiba si oom langsung menekan sekuat tenaga. Aku sama sekali tak menyangka akan hal itu, sehingga kontolnya langsung melesak ke dalam memekku. Kontolnya kembali menyesaki memekku yang sempit itu. Dia mulai mengenjotkan kontolnya naik turun dengan teratur sehingga menggesek seluruh lubang memekku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah- patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, kedutan memekku kembali terasa.

“Nesss, hhhhh..nikmathhh banget deh empotan… memek kamu”, katanya terengah. Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot memekku.

“Akkhh.. Nes.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh..” erangnya berulang-ulang.

Si oom semakin kuat meremas2 dan memilin2 pentilku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, sambil  semakin mempercepat irama enjotannya. Aku berusaha mengimbangi keluar masuknya kontolnya didalam memekku dengan goyangan pantatku. Si oom kelihatannya berusaha keras untuk bertahan, agar tidak ngecret sebelum aku nyampe lagi. Kontolnya terus mengaduk2 memekku semakin cepat lagi. Memekku terasa makin berkedut, kedua ujung pentilku semakin keras, mencuat berdiri tegak. Langsung pentilku disedot kuat-kuat kemudian dijilati dengan penuh nafsu.

“Oom..! Lebih cepat lagi doonng..!” teriakku sambil  menekan pantatnya kuat-kuat agar kontolnya lebih masuk ke memekku.

Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi dengan cairan hangat menyembur dari memekku. Bersamaan dengan itu, tubuh si oom pun bergetar keras yang diiringi semprotan pejunya ke dalam memekku. Aku pun mengerang tertahan. Aku langsung memeluk tubuhnya erat-erat, dengan penuh perasaan si oom membalas pelukanku sambil merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman. Aku masih bisa merasakan kedutan memekku. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan di kamar mandi. Aku dan Winda belum pernah merasakan sedemikian nikmatnya dientot lelaki dan si oom katanya juga puas banget ngentot dengan kami..


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com