Stop Facebook exploiting you: support secure and private social network project

tagtag.com/favorit

Tak lama setelah Mbak Arnik turun dari bus kota, aku juga
turun. Kemontokan pantat Mbak Arnik yang padat dan kenyala masih
terasa di batang penisku. Sesampainya di rumah oom-ku aku mencari
tempat untuk beronani menuntaskan hasratku yang terputus di bus kota.
Aku mengocok penisku sambil membayangkan menyetubuhi pantat montok
Mbak Arnik, seorang aktivis wanita PKS yang telah aku lecehkan dalam
bus kota siang ini. Dalam waktu beberap menit aku mengerang penuh
kenikmatansambil menyebut nama wanita PKS yg sintal itu. Seusai
menuntaskan hasratku timbul keinginananku untuk memburu wanita PKS
yang aku lecehkan dalam bus kota siang ini. Kebetulan oom-ku adalah
Kabag Personalia di Dephut Yogyakarta mungkin dari situ aku bisa
mendapatkan data tentang wanita PKS yang bersuamikan pegawai Dephut.
Aku beristirahat sejenak dalam kamar yang disediakan tanteku sebelum
sorenya aku menemui oom-ku untuk menanyakan nama Ari dari Dephut yang
saat ini sedang bertugas di Kalimantan. Aku memang berniat memburu wanita PKS yang
menjdai korban pelecehan seksualku di bus kota siang ini.
Sekitar jam 8 pagi esoknya, aku benar- benar mencari alamat
rumah Mbak Arnik di Kotagede. Alamat rumah tersebut termasuk mudah
sehingga dalam waktu tidak terlalu lama aku berhasil menemukan rumah
wanita PKS ini. Dadaku berdebar keras ketika aku telah berad di depan
rumah Mbak Arnik, aku melihat Mbak Arnik sedang berada di teras
rumahnya. Perempuan aktivis PKS ini terlihat sedang membaca majalah
wanita Ummi sambil menggendong anak bungsunya yang pulas tertidur.
Ketika aku datang sambil memberi salam, wanita PKS ini menjawab
salamku, menatapku dengan tatapan heran. Ketika aku mengaku dari
Dephut sambil menyodorkan bukti yang kuambil dari oom-ku baru, aku
dipersilahkan duduk di teras.
“Silahkan duduk dulu….Saya akan meletakkan anak saya di dalam “kata
Mbak Arnik
“Silahkan, Mbak ” sahutku sambil tersenyum.
Jakunku bergerak turun naik melihat pantat mbak Arnik yang montok dan
bahenol bergoyang- goyang saat dia berjalan masuk ke dalam rumah
sambil membawa anaknya. Jubah panjang warna biru muda yang dipakainya
saat ini, tak mampu menyembunyikan kemontokan pantat wanita PKS yang
sintal dan bahenol ini. Mataku melotot penuh nafsu dengan penis
mulai menegang, melihat goyangan pantat wanita PKS ini sebelum hilang
di balik pintu. Tidak lama aku menunggu karena beberapa menit
kemudian wanita PKS ini keluar lagi dengan wajah penuh tanda tanya.
Aku bersyukur ternyata wanita ini tidak mengenaliku sebagai pelaku
pelecehan seksual terhadapnya di bus kota kemarin siang.
“Maaf..mas ada apa yah?..tentang suamiku?” tanya Mbak Arnik .
Aku tersenyum menatap wajah ayu wanita PKS ini. Pagi ini Mbak
Arnik memakai jubah panjang warna biru muda dengan jilbab lebar warna
putih berenda sementara kakinya terbungkus kaus kaki warna krem.
Sesaat aku terpesona melihat kecantikan ibu muda berjilbab lebar ini.
“Maaf Mbak, ada berita yang ingin aku sampaikan tentang mas
Ari, namun apa ada orang lain di rumah ini karena beritanya mungkin
mengejutkan?” tanyaku
“Ya..ada..adik ipar perempuan saya namun sekarang sedang
mengantar kedua anak saya di TK dan Playgroup dan biasanya langsung
pergi kuliah serta kedua mertua saya namun keduanya juga sedang
mengajar di SMP dan baru pulang siang nanti. Ada berita apa?” jawabnya
dengan nada cemas.
Aku mengangguk- angguk puas sambil berdiri
” Ada musibah yang menimpa suami mbak, tapi sebaiknya aku
sampaikan di dalam saja, jangan di teras ” kataku seraya menepuk
pundak wanita PKS ini.
Mbak Arnik terlihat kaget ketika pundaknya aku tepuk namun
sedetik kemudian wanita PKS yang semula terlihat cerdas itu menjadi
nampak linglung dengan sorot mata bingung. Aku memang tengah
menggunakan ilmu gendam yang aku miliki pada wanita PKS ini dan
agaknya ilmu tersebut berpengaruh terhadapnya. Dengan menyeringai
puas aku menarik Mbak Arnik untuk berdiri lantas aku rangkul
pinggangnya yang masih ramping masuk ke dalam rumahnya. Di dalam
rumah Mbak Arnik, aku melihat rumah ini penuh dengan atribut Partai
Keadilan Sejahtera. Muali dari pintu ruang tamu yang tertempel stiker
PKS lantas di rak buku dalam ruang tamu tampak beberapa buku tentang
Partai berlambang bulan sabit ini, hingga yang paling mencolok adalah
lambang Partai Keadilan Sejahtera tergantung di dinding ruang tamu
dengan ukuran cukup besar. Benar-benar keluarga aktivis PKS yang
militan kataku dalam hati. Aku menatap wajah ayu Mbak Arnik yang
terbalut jilbab lebar dengan penuh nafsu. Tanganku yang memeluk
pinggang rampingnya tak tahan untuk menjamah pantat montoknya lantas
dengan gemas tangaku meremas-remasnya. Ibu muda aktivis PKS menjerit
kecil ketika dengan gemas aku meremas- remas pantatnya yang bahenol
dan montok. Birahiku sudah mulai naik ke ubun-ubun, penisku juga
sudah mulai tegang dan mengeras. Aku mengunci pintu rumah Mbak Arnik
lantas wanita PKS yang masih berpakaian lengkap ini aku tarik masuk
ke dalam sebuah kamar, entah kamar siapa namun aku menduga kamar adik
ipar Mbak Arnik karena di meja kamar tersebut ada sebuah foto wanita
berjilbab lebar dalam bingkai namun wajahnya lebih mirip wajah
suaminya. Latar belakang foto tersebut lambang Partai Keadilan
Sejahtera, agaknya adik ipar yang kata Mbak Arnik masih kuliah ini
juga aktivis PKS.
Mbak Arnik hanya terdiam ketika tubuhnya aku rebahkan di
ranjang kamar adik iparnya sementara birahiku sudah naik hingga ke
ubun. Sungguh aku tak menyangka begitu mudahnya aku memperdaya Mbak
Arnik bahkan wanita PKS yang masih berpakaian lengkap dengan jilbab
lebar dan jubah panjangnya kini rebah terlentang di atas ranjang
depan mataku. Mataku melotot buas ketika kulihat tonjolan segitiga
pada bagian selangkangan Mbak Arnik yang tampak membukit pada jubah
yang dipakainya. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol
membuat penisku terasa kian keras menegang oleh birahi dan aku tak
tahan mengulurkan tanganku meremas- remas bukit kemaluan yang montok
tertutup jubah Mbak Arnik. Mbak Arnik tersentak ketika tanganku
meremas-remas bagian selangkangannya yang membukit, namun pengaruh
ilmu gendamku yang ampuh membuat wanita PKS ini tidak melawan. Tubuh
ibu muda yang alim ini hanya menggeliat- geliat saat jubah yang
dipakainya menjadai kusut pada bagian selangkangan karena remasan
tanganku. Mulutnya mendesah- desah dengan ekspresi yang membutaku
libidoku semakin terangsang. Aku terkekeh melihat gelinjangan Mbak
Arnik yang alim ini saat bagian selangkangannya aku remas-remas.
Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan Mbak Arnik, mataku
memandang wanita PKS yang terlentang di atas ranjang ini dari ujung
kepalanya hingga ke kakinya. Ibu Muda aktivis PKS ini masih memakai
jilbab lebar warna putih yang berenda, jubah panjang warna biru muda
dan kaus kaki krem yang amsih membungkus kedua kakinya. Dengan birahi
menggelegak, aku naik ke atas ranjang di dekat kaki Mbak Arnik yang
terlentang. Sesaat kemudian, tanganku terulur meraih kedua kaki Mbak
Arnik yang masih terbungkus kaus kaki panjang warna krem. Hanya dalam
waktu beberapa detik tanganku menarik lepas kedua kaus kaki krem
tersebut dan aku lemparkan ke lantai kamar sehingga kaki wanita PKS
ini telanjang.. Mataku membesar ketika melihat kaki telanjang Wanita
PKS berkulit putih mulus ini yang indah putih kemerahan. Kakinya yang
halus dengan otot yang kebiruan terlihat sangat indah dan merangsang
nafsuku membuatku tergerak untuk mengelus-elusnya. Selanjutnya kedua
kaki Mbak Arnik yang telanjang itu aku angkat hingga di depan bibirku
lantas dengan bernafsu bibirku mencium kaki wanita PKS ini mulai dari
telapak kakinya yang halus kemerahan bahkan kemudian lidahku terjulur
menjilatinya. Dalam sekejap telapak kaki Mbak Arnik yang kemerahan
itu menjadi basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Kian
lama lidahku pun kian liar menjelajahi sela- sela jemari panjang di
kaki Mbak Arnik yang halus kemerahan tersebut dengan nafas yang
memburu .
Aku kian asyik menjilati kaki wanita PKS ini terus ke atas
melewati mata kakinya. Sementara tanganku dengan nakal menggerayangi
betis wanita PKS di balik jubah panjangnya tersebut. Saat tanganku
menyusup di balik jubah Mbak Arnik, aku mengetahui ternyata wanita
PKS ini memakai rok dalam yang juga panjang hingga mata kaki.
Tanganku meraba-raba merasakan kemulusan betis Mbak Arnik yang masih
tertutup jubah tersebut. Sepasang betis wanita cantik aktivis PKS
yang kenyal ini terasa hangat dan lembut di tanganku yang mengelus-
elusnya penuh nafsu. Bibir dan lidahku pun kian liar menjilati
menikmati kemulusan kaki Mbak Arnik kian ke atas. Dengan bibirku aku
menyingkap ujung jubah yang dipakai wanita PKS ini ke atas sehingga
keindahan betisnya yang mulus mulai terlihat.Bibir dan lidahku terus
bermain di kulit Mbak Arnik yang halus ini dengan penuh nafsu. Betis
putih yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu nan halus ini dalam sekejap
basah kuyup oleh jilatan lidahku dan ciuman bibirku. Nafasku memburu
kian liar sementara ujung kain jubah yang dipakai Mbak Arnik kian
tersingkap ke atas memperlihatkan betis yang putih dan mulus
tersebut. Aku membungkuk menciumi dan menjilati kemulusan betis
telanjang ibu muda aktivis PKS yang berwajah cantik ini, sementara
tanganku menyusup di balik jubahnya kian ke atas mengelus pahanya
yang bulat padat tersebut.
Sekujur betis putih Mbak Arnik yang mulus telah basah oleh
jilatan dan ciumanku dengan birahi menggelegak. Ujung jubah biru muda
yang dipakai ibu muda berjilbab pun tersingkap semakin ke atas,
terdorong oleh bibir dan lidahku. Perlahan-lahan sepasang paha putih
wanita PKS ini mulai terlihat bersamaan dengan jilatan dan ciumanku
yang mulai merambah paha Mbak Arnik. Aku makin bernafsu merasakan
kemulusan paha putih yang kencang dan bulat padat tersebut. Nafasku
terengah-engah menahan birahiku sambil terus menciumi sekujur paha
Mbak Arnik yang mulus tersebut. Sepasang paha yang selalu tertutup
oleh pakaian panjang tersebut kini menjadi basah oleh jilatan lidahku
yang semakin liar. Ujung jubah yang dipakai Mbak Arnik kian
tersingkap ke atas yang akhirnya dengan bantuan kedua tanganku,
pakaian panjang tersebut aku singkap hingga pinggang membuat bagian
bawah tubuh wanita PKS kini telanjang. Aku melotot penuh nafsu
melihat pemandangan yang menggiurkan di depanku ini dan aku nyaris
tak percaya. Seorang ibu muda alim berjilbab dan selalu berpakaian
tertutup kini dalam keadaan setangah telanjang. Perempuan cantik
berjilbab aktivis Partai Keadilan Sejahtera yang semula berpakaian
panjang hingga mata kaki, saat ini pakaian tersebut tersingkap hingga
ke pinggangnya. Bagian atas wanita PKS ini masih nampak rapi dengan
jilbab lebar yang membalut wajahnya, namun paha dan betisnya yang
putih mulus menggiurkan kini telanjang tanpa penutup. Aku mengakui
rumor yang beredar bahwa para wanita berjilbab lebar seperti Mbak
Arnik ini memang mempunyai tubuh yang lebih putih dan lebih mulus
dibanding wanita lainnya. Semula aku mengira kemulusan Mbak Arnik ini
seperti pacarku yang juga berkulit putih , namun saat ini aku
mengakui kalau wanita PKS ini terlihat lebih mulus dan putih
dibanding pacarku.
Usai menciumi dan menjilati betis dan paha Mbak Arnik, mataku
tak berkedip memandang tonjolan di tengah selangkangan Mbak Arnik
yang montok membukit. Aku melihat kemaluan aktivis wanita PKS ini
masih tertutup oleh celana dalam krem dengan ketat. Libidoku kian
terasa liar melihat gundukan kemaluan Mbak Arnik yang menonjol
menggiurkan. Beberapa saat lalu, nafsuku telah terangsang melihat
gundukan montok di selangkangan wanita PKS ini saat terlentang namun
jubahnya belum tersingkap. Bahkan saat itu dengan gemasnya aku
meremas-remas gundukan kemaluan yang membukit itu, sehingga jubah
tersebut menjadi kusut pada bagian selangkangan. Saat ini aku melihat
gundukan kemaluan montok tersebut hanya tertutup oleh celana dalam
warna krem yang agak tipis, sehingga belahan bibir kemaluannya nampak
jelas terbayang bahkan kelentit yang menonjol di antara bibir
kemaluan wanita PKS ini terlihat sangat jelas. Bulu-bulu kemaluannya
yang hitam juga tampak membayang jelas pada celana dalam yang dipakai
Mbak Arnik saat ini. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan
ada sebuah sensasi sendiri saat aku berhasil melihat bagain vital
seorang wanita aktivis PKS yang cantik seperti Mbak Arnik walaupun
masih tertutup celana dalam. Tanganku memang telah merasakan
kekenyalan bukit kemaluan Mbak Arnik, saat aku remas-remas sebelumnya
tetapi ketika kulihat bentuknya ternyata sangat merangsang birahiku.
Aku memperhatikan wajah Mbak Arnik yang terlentang di depanku
ini. Wajah ayu berbalut jilbab lebar itu tak lagi terlihat linglung
seperti beberpa saat yang lalu. Wajah ibu muda aktivis PKS ini justru
memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Aku
menyeringai sejenak sebelum kemudian membenamkan wajahku di tengah
selangkangan Mbak Arnik yang terasa hangat. Hidungku mencium bau
kewanitaan Mbak Arnik yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya
dibanding bau kewanitaan pacarku. Aku semakin mendekatkan wajahku ke
arah bukit kemaluan Mbak Arnik, bahkan hidungku telah menyentuh
kelentit yang tampak tercetak jelas pada celana dalam. Dengan nafas
yang terengah-engah menahan birahi, lidahku terjulur menjilati
kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita PKS ini. Saat
lidahku mulai menyapu kelentit Mbak Arnik di balik celana dalam warna
krem itu, tiba-tiba pinggul wanita PKS ini menggelinjang dibarengi
desahan ibu muda berjilbab ini.
“Ahh… ahhhhh..ahhh”desah Mbak Arnik yang membuat libidoku
semakin menggelegak.
Aku semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan
Mbak Arnik yang masih tertutup celana dalam. Setiap kali lidahku
menyapu permukaan kemaluan Mbak Arnik atau bibirku menciumnya dengan
penuh nafsu, wanita PKS berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah-
desah penuh birahi. Lidah dan bibirku seakan berebut merambah sekujur
permukaan bukit kemaluan Mbak Arnik yang masih tertutup celana dalam,
sehingga beberapa saat kemudian celana dalam yang dipakai wanita PKS
ini menjadi basah kuyup. Celana dalam yang dipakai Mbak Arnik
termasuk tipis, sehingga ketika celana dalam wanita tersebut dalam
keadaan basah kuyup oleh jilatan lidahku, semakin terlihat jelas
kemaluan wanita PKS ini. Belahan bibir kemaluan Mbak Arnik dengan
kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas.
Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu muda ini
juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di
selangkangan Mbak Arnik, aku menjadi tak sabar sehingga sedetik
kemudian tanganku telah menarik turun celana dalam yang dipakai
wanita cantik aktivis PKS yang alim ini. Sekejap kemudian celana
dalam berwarna krem yang semula menutupi bagian vital Mbak Arnik,
telah teronggok di bawah kakinya. Mataku melotot lebar melihat
selangkangan wanita PKS yang alim ini, kini telanjang tanpa penutup
sehelai benangpun.
“Ouhhhh….Mbak Arnik……” desisku melihat gundukan bukit kemaluan
Mbak Arnik yang kini tak lagi tertutup celana dalam tersebut.
Libidoku menggelegak melihat bagian paling pribadi wanita
alim ini. Aku membandingkan kemaluan Mbak Arnik dengan kemaluan
pacarku. Aku mendapat kemaluan wanita PKS ini jauh lebih merangsang
daripada kemaluan pacarku sendiri. Bibir kemaluan Mbak Arnik terlihat
merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya.
Bulu-bulu kemaluan yang hitam legam tercukur dengan rapi, tampak
kontras dengan putihnya bukit kemaluan wanita PKS ini. Ketika wajahku
mendekat kemaluan yang telanjang tersebut, bau kewanitaan Mbak Arnik
yang menyengat tercium di hidungku. Aku melihat kemaluan Mbak Arnik
sudah basah oleh rangsanganku sebelumnya, bahkan ketika aku
menguakkan bibir kemaluan wanita PKS ini cairan kenikmatan nya jatuh
menetes membasahi sprei.
Aku menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan
bernafsu, aku menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Mbak Arnik
yang menetes dari kemaluannya. Lidahku merasakan asin saat lidahku
menjilati cairan kenikmatan Mbak Arnik, lantas dengan birahi yang
kian menggelegak lidahku menyapu kemaluan telanjang di antara paha
wanita alim ini. Aku merasa pahan Mbak Arnik bergetar lembut ketika
lidahku mulai menjalar mendekati selangkangan wanita PKS ini. Mbak
Arnik menggeliat kegelian ketika akhirnya lidahku itu sampai di
pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidahku
menelusuri lepitan- lepitan di situ, menambah basah segalanya yang
memang telah basah itu. Terengah-engah, Mbak Arnik mencengkeram
rambutku dengan satu tangan, perlahan menekan, memaksaku segera
menjilat di daerah yang paling sensitif milik aktivis wanita PKS
inbi.Mbak Arnik menggelinjang- gelinjang hebat ketika lidah dan
bibirku menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita aktivis
PKS ini mendesah- desah dan merintih- rintih saat bibir kemaluannya aku
kuak lebar-lebar dan lidahku terjulur masuk menjilati bagian dalam
kemaluannya. Bahkan ketika lidahku menyapu kelentit Mbak Arnik yang
telah mengeras itu, aku teruskan dengan menghisapnya lantas
mengigitnya lembut. Mbak Arnik merintih hebat. Tubuhnya mengejang
sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya
yang montok membusung.
“Ahhhhh….ahhhhhh .ahhhhh”rintih Mbak Arnik dengan jalangnya
disertai tubuh yang menggelinjang.
Kembali kurasakan cairan kenikmatan membasahi kemaluan wanita
aktivis PKS ini yang segera aku hirup dengan mulutku. Lidah dan
bibirku makin liar menjilati di daerah paling pribadi Mbak Arnik yang
kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemrah-
merahan itu menjadi berjilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan
wanita PKS yang tercukur rapi pun menjadi busuh kuyup oleh jilatan
lidahku. Aku mengunyah- ngunyah kemaluan Mbak Arnik beberapa saat yang
membuat ibu muda berjilbab lebar ini mengerang dan merintih dengan
tubuh menggelinjang jalang. Lidahku menyusuri belahan kemaluan yang
telah membengkak lantas sekujur permukaan kemaluan yang membukit
montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah
hingga ke belahan pantat yang tampak.
Aku menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Mbak Arnik
yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu aku membalikkan
tubuh wanita PKS yang terlentang menjadi tengkurap.Mataku melotot
liar melihat pemandangan indah setelah Mbak Arnik tengkurap. Pantat
wanita PKS yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan.
Nafasku terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar Mbak
Arnik yang putih mulus itu. Ingatanku melayang saat aku melakukakn
pelecehan seksual terhadap wanita PKS ini di bus kota. Saat itu
penisku yang tegang dan masih dalam celanaku aku gesek- gesekkan pada
belahan pantat Mbak Arnik yang saat itu juga masih tertutup jubah
panjang. Aku tidak menduga kalau saat ini, pantat wanita PKS yang
montok itu dapat aku nikmati tanpa penutup sehelai benangpun.
Birahiku kian menggelegak liar melihat pantat Mbak Arnik yang montok
dan padat. Dengan gemas aku meremas-remas bukit pantatnya dengan
tanganku lantas aku mendekatkan wajahku pada belahan pantat wanita
PKS ini. Lidahku terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan
bernafsu aku mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus
tersebut. Mbak Arnik mendesah- desah dengan tubuh menggelinjang
menahan birahinya, saat lidahku menyusuri belahan pantatnya hingga
belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Mbak Arnik
yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidahku.
Kemudian bibir dan lidahku secara bergantian menyusuri sekujur
pantatnya yang menggunung indah bahkan dengan gemas aku mengunyah
pantat montok wanita PKS ini. Tanganku juga menguak belahan pantat
ibu muda ini dan selanjutnya lidahku menyapu daerah anus dan
sekitarnya yang membuat Mbak Arnik mengerang penuh birahi.
Puas menikmati pantat Mbak Arnik yang montok, aku kembali
menelentangkan ibu muda berjilbab lebar ini. Mataku terarah pada
sepasang payudara montoknya yang amsih tersembunyi di balik jilbab
dan jubah yang dipakai Mbak Arnik. Tanganku meraih jilbab lebar
tersebut lantat menyingkapan hingga ke lehernya, kemudian dengan
lincah jari-jari tanganku membuka kancing jubah yang dipakai Mbak
Arnik. Perlahan kemudian kulit mulus Mbak Arnik yang mulus terlihat
dan ketika kancing jubah yang hanya sampai atas perutnya terbuka
seluruhnya, tanganku merogoh ke balik jubahnya lantas menarik
sepasang payudara Mbak Arnik. Akhirnya sepasang payudara wanita PKS
yang semula tersembunyi di balik BH, tersembul keluar dengan puitng
susunya yang telah tegak mengeras. Buah dada Mbak Arnik nampak sangat
montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang
kemerahan membuatku tak sabar untuk mengunyahnya. Sedetik kemudian,
payudara wanita PKS ini telah berada dalam mulutku yang menngunyah-
ngunyahnya dengan nafsu secra bergantian. Puting susu yang telah
tegak mengeras aku hisap dan aku gigit- gigit membuat Mbak Arnik
terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Mbak Arnik yang
putih mulus itu dalam sekejap basah dan penuh dengan bilur-bilur
kemerahan bekas kunyahanku.
Aku sudah tak tahan menahan nafsuku. Jilbab lebar yang
dikenakan Mbak Arnik aku lepaskan sehingga tergerai rambutnya yang
hitam legam. Aku terpesona melihat kecantikan Mbak Arnik yang tidak
lagi berjilbab tersebut.Wajah cantik wanita PKS ini semakin menawan
dengan rambut hitam yang panjang ikal mayang mebuat hatiku bergetar.
Puas menikmati kecantikan PKS ini aku melucuti jubah biru yang
dikenakan Mbak Arnik kemudian disusul sisa pakaian dalam yang masih
melekat di tubuh ibu muda ini. Akhirnya tubuh wanita aktivis PKS yang
semula tertutup rapat dengan jilbab lebar serta jubah panjangnya,
saat ini telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Aku
tidak menyangka kalau saat ini aku berhasil menelanjangi wanita PKS
yang tampak alim ini dengan jilbab dan pakaian yang tertutup rapat.
Birahiku sudah menggelegak di ubun- ubun dengan penis yang tegang
mengeras. Aku melihat ibu muda aktivis PKS ini mempunyai tubuh yang
indah dan terlihat masih kencang walaupun dia sudah punya anak
tiga.Aku menyusuri keindahan tubuh telanjang wanita PKS ini dari
ujung rambut hingga ke kakinya.Kemudian mataku kembali menatap
kemaluan Mbak Arnik yang indah itu, tangaku kembali terulur menjamah
bagian kewanitaan wanita alim yang telanjang ini.
Aku merasakan kewanitaan Val berdenyut liar, bagai memiliki
kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali
dengan rambut-rambut hitam di sekitarnya, dan dengan tubuhnya yang
putih seperti pualam. Dari jarak yang sangat dekat, aku dapat melihat
betapa liang kewanitaan aktivis wanita PKS ini membuka-menutup dan
dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Mbak Arnik
telah pindah ke bawah. Aku juga bisa melihat betapa otot- otot di
pangkal paha Mbak Arnik menegang seperti sedang menahan sakit. Kedua
kakinya terentang dan sejenak kaku sebelum akhirnya melonjak-lonjak
tak terkendali. Begitu hebat puncak birahi melanda Val, sampai dua
menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda
ayan. Ia menjerit, lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya
terengah-engah.
Aku kembali berdiri, dan segera melepas seluruh kain yang melekat
di tubuhku termasuk celana dalamku. Batang kejantananku segera
terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungku yang berdegup keras.
Mbak Arnik masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan
pemandangan sangat seksi di atas ranjang kamar adik iparnya
ini.Tangan aktivia wanita PKS ini mencengkram sprei bagai menahan
sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya mendongak
menampakkan leher yang mulus menggairahkan, rambut hitamnya terurai
bagai membingkai wajahnya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak
birahi. Aku menempatkan dirinya di antara kedua kaki Mbak Arnik, lalu
mengangkat kedua paha wanita PKS ini, membuat kewanitaannya semakin
terbuka.
Tanpa aku duga sama sekali, tiab-tiba tangan Mbak Arnik meraih
penisku dan segera menuntun batang kejantananku memasuki gerbang
kewanitaannya. Tak sabar, wanita PKS ini menjepit pinggangku dengan
kedua kakinya, membuat tubuhku terhuyung ke depan, dan dengan cepat
penisku yang tegang segera melesak ke dalam tubuh Mbak Arnik melalui
liang kemaluannya. Bagiku, rasanya seperti memasuki cengkraman licin
yang panas berdenyut. Akupun segera melakukan tugasku dengan baik,
mendorong, menarik kejantananku dengan cepat. Gerakanku begitu ganas
dan liar, seperti hendak meluluh- lantakkan tubuh putih Mbak Arnik
yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang
penisku menerjang- nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding
belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita alim
aktivis PKS ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan.
Aku mengerahkan seluruh tenaganya menyetubuhi wanita PKS yang
alim ini. Otot-otot bahu dan lenganku terasa menegang dan terlihat
berkilat-kilat karena keringat. Pinggangku bergerak cepat dan kuat
bagai piston mesin- mesin di pabrik. Suara berkecipak terdengar setiap
kali tubuhnya membentur tubuh Mbak Arnik, di sela-sela derit ranjang
yang bergoyang sangat keras. Mbak Arnik merintih dan mengerang begitu
jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh tubuhnya
terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot- otot menegang.
Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat- geliat, mendatangkan
kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata terus terpejam, Mbak
Arnik mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas
datangnya puncak birahi yang tak terperi. Aku merasakan batang
kejantananku bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang
amat kuat sedotannya.
Aku tak mampu menahan lagi, Kenikamtan yang kudapatkan dari
jepitan kemaluan wanit alim ini tidak mungkin aku lukiskan. Dengan
geraman liar aku memuncratkan seluruh isi penisku dalam liang vagian
Mbak Arnik, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita
PKS yang juga sedang megap-megap dilanda orgasme sepertiku. Mbak
Arnik mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung penisku
dalam dasar kemaluannnya. Aku merasakan jepitan Mbak Arnik kian ketat
berdenyut-denyut pada batang penisku dan cairan kewanitaan wanita
alim ini terasa mengguyur batang penisku datang bergelombang. Aku
menggeram liar disusul Mbak Arnik yang mengerang dan mengerang lagi,
sebelum akhirnya terjerembab dengan tubuh bagai lumat di atas kasur.
Aku menyusul roboh menimpa tubuh putih Mbak Arnik yang licin oleh
keringat itu. Nafasku tersengal- sengal ditingkahi nafas Mbak Arnik
yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan
pertandingan di kolam renang. Tubuhku lunglai di atas tubuh telanjang
Mbak Arnik yang juga lemas.
“Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas… kata Mbak Arnik
akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.
Matanya terpejam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku cuma
menggumam, menenggelamkan kepalaku di antara dua payudara Mbak Arnik
yang besar dan lembut.Aku melihat Mbak Arnik masih terpengaruh oleh
sihir gendam yang aku gunakan, walaupun wanita PKS ini telah aku
setubuhi. (Tamat)


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com