Stop Facebook exploiting you: support secure and private social network project

tagtag.com/17tahun

Hallo Wiro dan pembaca cerita- cerita seru?
sekalian. Tidak disangka ternyata saya dapat
puluhan respon dalam satu hari. Semuanya minta agar cerita "Onani Di Depan
Ibu Kost" dilanjutkan. Baiklah saya lanjutkan ceritaku ini.
Pada bagian pertama dikisahkan bahwa ibu kost akan memberikan
vaginanya bila saya dapat bertahan melakukan onani dalam satu jam tanpa
keluar sperma (ejakulasi). Sebagai gambaran, ibu kost saya ini cantiknya
setengah mati. Tahu kan Larasati (model)? Nah, ibu kost saya mirip- mirip
seperti itu. Dulu katanya hampir jadi penyiar. Oke, saya lanjutkan lagi.
Karena sudah kepalang basah akhirnya saya terima tantangan itu. Saya kocok
penisku agak perlahan agar bisa bertahan lama. Kelihatannya teknik ini
cukup berhasil. Lima menit sudah berlalu dan tidak ada tanda-tanda saya
akan ejakulasi.
"Wah, hebat juga kamu. Coba sekarang biar ibu yang kocok," katanya.
Ternyata dia tahu saya curang. Kali ini saya pasrah. Tangannya yang lembut
dan lentik itu sekarang sudah menggenggam batang penisku. Ala mak,
pertamanya sih terasa ganjil dan geli. Tapi lambat laun rasa itu berubah
menjadi nikmat yang luar biasa. Saya coba membayangkan rumus- rumus
matematika, program komputer yang rumit, listing virus, bahkan sampai
dosenku yang killer, semuanya itu agar saya dapat bertahan lama. Tapi
lagi-lagi ibu kost lebih pintar. Dia menggosok-gosok paha dalamku sementara
tangan yang lain tetap mengocok penis. Di lain waktu dia memainkan kantong
pelir atau menggosok kepala penis. Saya benar-benar tidak kuat. Saya
cengkram kedua tangannya.
"Stop, berhenti dulu bu," kataku sambil terengah-engah. Saya lirik jam
dinding. Wah, baru sembilan menit. Saya menarik nafas panjang dan
menahannya beberapa detik.
"Sudah siap?" tanya ibu kost. Saya mengangguk. Dia kembali mengocok
penisku. Belum sampai satu menit saya merasa akan ejakulasi lagi.
Cepat-cepat saya genggam tangannya.
"Stop," teriakku. Ibu kost berhenti satu detik tapi kemudian berusaha
menggerakkan tangannya lagi. Genit juga ibu kostku ini.
"Stop, stop, stop. Saya betul-betul mau keluar bu," rengekku minta
dikasihani. Penisku terasa membesar, tegang, dan siap memuntahkan sperma.
Keringat bercucuran deras sekali. Ibu kost malah tertawa. Saya benar-benar
tersiksa. Dari ujung penis meleleh beberapa tetes air. Mungkin sebagian
kecil sperma yang tidak tertahan.
"Whua ... bocor," ledeknya. "Kasihan juga kamu. Ibu kasih waktu
istirahat satu menit deh."
Saya menarik nafas lega. Hampir saja saya kalah. Padahal ini
kesempatan emas buatku. Kapan lagi bisa melihat vagina ibu kost saya yang
cantik? Terus terang, saya belum pernah melihat kemaluan wanita secara
langsung kecuali hanya lewat gambar- gambar. Saya tidak boleh kalah,
tekadku. Pembaca, saat itu adalah cobaan terberat dalam hidupku.
"Teng ... teng ... Ronde kedua dimulai, " godanya dengan wajah lucu
tapi genit.
"Aduh ... bentar lagi deh, " kataku memelas. Kalau penis berhasil
ditidurkan biasanya bisa kalau bangun tidak cepat keluar.
"Ya sudah kalau begitu nggak jadi deh taruhannya," ujar ibu kost
sambil ngeloyor pergi.
"Bu ... jadi deh. Ayo buruan," saya mencengkram tangannya yang lunak.
"Heh, pegang- pegang," hardiknya pura-pura galak. "Tuh kan punya kamu sudah
lemes lagi ... curang. Awas pokoknya nggak ada istirahat lagi"
Begitulah saudara- saudara, siksaan kembali datang. Untung saya bisa
bertahan sekitar 4 menit. Ketika hampir keluar tiba-tiba ibu kost
menghentikan kocokannya. "Uh, save by the bell," gumamku dalam hati.
"Eh, begini ... kamu hampir lecet kan?" tanyanya. Saya mengangguk.
"Ya udah, kalau begitu pakai celanamu ..." perintahnya. Saya ambil
celana yang ada di atas komputer. Setelah rapi, ibu kost menarik tanganku
keluar dari kamar. Memang saat-saat seperti ini rumah kost biasanya sepi.
Pembantu kalau jam- jam begini sering main ke rumah tetangga sambil bawa
anak ibu kost yang umurnya baru 2 tahun. Di sana para pembantu asyik
ngerumpi.
Saya ikuti ibu kost dari belakang. Rupanya dia membawa saya ke kamar
mandinya! Di situ lagi-lagi saya disuruh membuka celana. Sambil saya
mencopot celana dalam ibu kost membasahi tangannya dengan air. Lalu
dituangkan sabun Lux cair ke telapak tangannya. "Gila, pengalaman juga ibu
kost saya ini," pikirku di dalam hati. Pasti ini hasil didikan bapak kost.
Setelah tangannya penuh dengan busa sabun, ibu kost mengambil pasta gigi
Close-Up.
"Hah, kok dicampur odol?" saya coba memprotes.
"Biar semriwing rasa menthol," katanya dengan wajah lucu. Hampir saya
tertawa terbahak- bahak melihat ide gila ini. Wah, rasanya seperti apa ya?
Kalau panas mending nggak jadi saja deh.
Ketika sudah siap, dia menghampiri penisku yang lemas. "Yah, kok tidur
sih. Ayo dong bangun sayang. Bangun yang ... cup, cup, cup," bisiknya
sambil mencolek- colek kepala penisku. Tuiiiwwwww ... penisku sontak siaga
merapi. Berdiri gagah sambil menunjuk gagah ke arah ibu kost. "Whuuaaa ...
cepet amat bangunnya, " pekiknya tertahan. Sialan.
Cepat-cepat ibu kost meluluri penisku sampai ke kantongnya. Syurrrrr
.... mulanya dingin- dingin empuk tapi lama-lama ... mak nyos hangatnya. Ibu
kost dengan terampil mengocok penisku maju muncur. Kocokannya itu
menimbulkan suara crok-crok-crok. Ala mak ... nikmat sekali. Posisi ibu
kost yang berjongkok tepat di depan saya yang berdiri menimbulkan sensasi
erotis luar biasa. Kadang-kadang dia menyibakkan rambutnya dengan lengan
kiri. Ah, cantik sekali.
Entah kenapa, tiba- tiba saya sekarang bisa bertahan lama. Mungkin
karena posisi saya yang berdiri atau panasnya pasta gigi sialan.
Iseng-iseng kuusap rambut tipis yang ada di samping telinganya. Dia diam
saja. Aha ... pertanda bagus. Dari situ saya mulai berani membelai
rambutnya.
"Ayo dong keluarin," bisiknya sambil ganti tangan (tadi ngocok pakai
kanan sekarang kiri). "Masih lama bu, " godaku. Dia cemberut, tapi tetap
cantik. Setelah sekian lama tidak keluar juga (mungkin sekitar 8 menit) ibu
kost menghentikan aksinya. "Harus dipanasin nih," kata dia lirih. Lalu ibu
kost membasuh kedua telapak tangannya. Setelah itu apa yang diperbuat? Di
luar dugaan ibu kost membuka daster dan BH nya! Sekarang dia hanya tinggal
memakai celana dalam. Buah dadanya yang montok dan besar terayun-ayun
sangat menggairahkan. "Tapi jangan pegang-pegang," tambahnya
memperingatkanku. Aku mengangguk. Sebenarnya bukan itu yang mengecewakan.
Ada lagi yang lebih mengecewakan. Ibu kost kembali melumuri tangannya
dengan odol. Kali ini malah tanpa sabun. Gila ... Akhirnya beberapa menit
kedepan saya tidak bisa menikmati indahnya tubuh ibu kost. Yang ada cuma
rasa cenut, cenut, cenut.
Siksaan berlangsung sekitar 2 sampai 3 menit. Setelah itu rasa panas
mulai berkurang. Di situlah saya mulai menikmati permainan ini. Saya
usap-usap bahunya lalu turun ke punggung. Dia diam saja. Ah ... nikmat
sekali. Lama-lama birahiku memuncak. Penis semakin membesar .... dan ...
"Aduh bu .... Andri mau keluarrrr ..." rintihku dengan nafas
tersengal-sengal. Ibu kost menghentikan kocokannya. Dipencetnya penis saya
sekuat mungkin. Saya menjerit. Penisku yang lurus tiba-tiba bengkok.
Lagi-lagi saya gagal mengeluarkan sperma. Keringat bercucuran membasahi
dahiku. Perlahan-lahan ada perasaan ngilu pada buah zakar. Ngilu yang
sangat menyakitkan. Belakangan saya tahu bahwa rasa sakit itu bernama "Blue
Balls" yaitu bengkaknya buah pelir karena sperma yang tidak dikeluarkan.
Setiap gerakan bagian pusar ke bawah membuat aku meringis.
"Kenapa? Ibu terlalu keras memencet penismu ya?" tanyanya. Saya diam
saja.
"Nggak bu, bukan penisnya yang sakit, tapi telornya, " kataku sambil
tetap meringis. Ibu kost melongo, tapi raut mukanya kali ini serius.
"Sekarang sudah jam berapa? Tanyanya ... saya celingukan mencari jam
dinding. Ah, tidak ada.
"Mungkin sudah satu jam bu," celetukku sekenanya.
"Enak saja ... setengah jam thauuu."
"Eit, nggak bisa bu ...," protesku. Saya yakin betul saya sudah di
masturbasi hampir satu jam.
"Ya sudah deh ... Karena ibu kasihan, jadi ibu anggap kamu sudah satu
jam."
Horreeeeee ... Saya hampir melonjak kegirangan. Berarti saya bisa
"main" dengan ibu kost. Wah, bagaimana ya rasanya memek itu. Apakah luarnya
sempit dalamnya lega seperti canda teman- teman saya waktu SD dulu. Saya
juga ingin merasakan menggenggam buah pepaya ibu kost yang besar dan montok
itu.
"Tapi gini Dri, " kata ibu kost. Sial, saya paling benci dengan kata
"tapi".
"Kamu boleh masukkan punyamu itu asal kamu pakai ini, " tambahnya
sambil menunjukkan dua buah benda. Bukan kondom saudara- saudara. Tapi suatu
benda yang membuat ibu kost menjerit kenikmatan tapi membuat penis saya
lecet-lecet dan saya kapok tidak mau memakainya lagi. Apa itu? Tunggu
sambungan cerita ini.


Home Site Map my.TagTag

Terms of Use
TagTag.com